3. ANALISIS KORAN

JAYAPURA – Perang antarsuku kembali terjadi di Papua, kali ini perang yang dipicu kasus suami istri terjadi di kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat lalu.

Akibat perang suku yang terjadi sekira pukul 16:00 WIT sore kemarin, sebanyak 75 orang dilaporkan terluka kena panah dan 1 orang kena kampak.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono (10/7/2010) mengatakan, perang suku tersebut dipicu perkelahian antara suami istri yakni Betena Wandik dan Alpius Wenda di Kampung Muara, Kabupaten Tolikara.

Kesal dipukuli suami, akhirnya Betena pulang ke rumah keluarganya yang berada di seberang kampung. Keesokan harinya, Alpius yang hendak menjemput sang istri, mendapat pukulan dari keluarga Betena.

Tak terima dipukuli, Alpius kemudian melakukan konsolidasi kekuatan untuk balik menyerang kampung istrinya. Akhirnya perang tak terelakan hingga 76 warga dilaporkan luka parah. “Para korban saat ini sudah dievakuasi, 3 di antaranya dievakuasi ke Wamena dan 4 ke Jayapura,” katanya.

Sementara itu, pihak kepolisian sudah mengumpulkan barang bukti (BB) di antaranya 6 buah parang, 13 pisau  dan badik, 50 anak panah, serta 6 busur panah. “Situasi terakhir sementara terkendali, kedua kubu sudah menarik diri ke tempat masing-masing,” lanjut Wachyono. (ram).

 

Komentar:       Lingkungan sosial di Papua membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Kehidupan masyarakat yang masih cenderung primitif dan keras membuat mereka memelihara dan memperoleh respon-respon agresif. Sehingga setiap permasalahan yang timbul diantara mereka diselesaikan dengan cara kekerasan. Kekerasan di Papua telah menjadi tradisi. Dengan menjadi tradisi, bisa diartikan bahwa kekerasan tersebut dipelihara oleh masyarakat Papua secara turun menurun.

Selain itu, terjadi deindividualisasi yang terjadi dalam masyarakat di Papua. Sehingga identitas kelompok lebih diutamakan dalam kelompok-kelompok masyarakat di Papua. Hal ini menyebabkan fanatisme yang tinggi dalam anggota –anggota kelompok tersebut. Bila ada anggota kelompok lain memiliki masalah dengan anggota suatu kelompok tertentu, maka anggota kelompok lain sertamerta akan ikut membantu atas nama solidaritas, sehingga dari masalah yang sepele antar angota kelompok bisa memicu terjadinya perang antar suku.

Itulah sebabnya di masyarakat Papua sering terjadi kekerasan. Dilihat dari latarbelakang masing-masing individu masyarakat Papua cenderung suka melakukan tindakan kekerasan. Sehingga bisa dikatakan sulit untuk menghentikan kekerasan di Papua.

By SOCIOUS SOCIETY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s