TUGAS

1Kelompok Minoritas dan Mayoritas Serta Hubungannya

Posted on September 25, 2012

Minoritas ialah kelompok sosial yang tak menyusun mayoritas populasi total dari voting dominan secara politis dari suatu kelompok masyarakat tertentu.

Minoritas dapat pula merujuk ke kelompok bawahan maupun marginal. Minoritas sosiologis tak perlu bersifat numerik sebab dapat mencakup kelompok yang di bawah normal dengan memandang pada kelompok dominan dalam hal status sosialpendidikan,pekerjaankekayaan, dan kekuasaan politik.

Indonesia merupakan bangsa yang multietnis dimana bermacam suku bangsa, budaya, dan adat istiadat berada dalam naungan bangsa yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika ini. Indonesia memiliki suku bangsa yang mencapai 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku. Selain suku, Indonesia juga negara dengan bahasa daerah terbanyak di dunia yaitu 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia.

Selain terdiri dari beragam suku dan budaya, Indonesia juga merupakan negara yang dihuni oleh penduduk yang memeluk beragam agama pula. Tak kurang ada enam agama resmi yang diakui pemerintah untuk dianut oleh warga negara Indonesia yakni Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan terakhir Konghucu.

Hal tersebut belum termasuk mereka yang tidak memeluk agama samawi tetapi berkeyakinan dengan hal – hal yang mereka anggap sebagai perwujudan dari Sang Maha Kuasa, seperti kepercayaan Parmalim dan Pelbegu dipedalaman Sumatera Utara, atau kepercayaan suku Badui dipedalaman Banten, yang kesemuanya juga dijamin keberadaanya oleh pemerintah sesuai isi pasal 29 ayat 2 Undang – Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945.

Namun ada hal yang ternyata masih menggangu stabilitas dari cita-cita mulia bangsa Indonesia dalam menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa yakni minimnya nilai toleransi yang justru terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia meskipun hak-hak mereka kini semakin dijamin oleh hukum sehingga kebebasan mereka sebagai warga negara yang memangku kedaulatan tertinggi negara benar-benar terimplementasi.

Hal ini terlihat dari bagaimana masyarakat kita kini masih mengalami sifat intoleransi antar sesamanya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Konflik horizontal yang diakibatkan berbagai perbedaan diantara masyarakat kita masih marak terjadi diera reformasi ini. Kemajemukan seolah menjadi musuh dalam mengarungi kehidupan negara yang katanya menjunjung tinggi semangat pluralisme ini.

Perbedaan masih belum mampu diterima secara utuh oleh rakyat kita yang notabenenya terdiri dari beragam suku bangsa, agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat. Hal ini terlihat dari banyaknya sengketa yang mewarnai era reformasi dewasa ini yang diakibatkan oleh perbedaan yang ada ditengah-tengah masyarakat kita.

Mulai dari konflik agama yang belakangan mulai merebak ramai kepermukaan. Ahmadiyah yang dianggap sebagai aliran sesat justru diparangi secara tidak manusiawi oleh sesama umat islam yang menyatakan aliran tersebut harus dibubarkan. Atau konflik antara umat Islam dan umat Kristen di Bogor mengenai keberadaan Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin yang membuat hubungan antar umat beragama sempat memanas, pembantaian terhadap pemeluk aliran Ahmadiyah di Cikesik Banten, hingga yang paling hangat adalah pembantaian terhadap pemeluk islam syiah di Sampang Madura yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

Bukankah bangsa kita merupakan bangsa yang gemar berdialog atau bermusyawarah dalam menyelesaikan berbagai silang pendapat atau perbedaan yang ada sesuai isi butir keempat Pancasila. Lalu mengapa ketika ada golongan yang merupakan sesama anak negeri ini namun memiliki keyakinan yang sedikit berbeda justru diperangi secara brutal tanpa memandang kaidah-kaidah agama itu sendiri yang mengedepankan cinta kasih antara sesama manusia dan kedamaian bagi pemeluknya.

Satu hal yang naif dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama namun justru melakukan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai agama dalam mempertahankan kepercayaannya. Seharusnya mereka yang memiliki pemahaman bahwa aliran Islam Syiah tersebut keliru, lebih bersikap dewasa dengan mengajak dialog para pengikut islam syiah dan menghindari tindakan-tindakan yang sporadis yang justru menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran agama.

Tokoh agama harusnya juga menggunakan peran mereka sebagai pentolan umat dalam mengambil keputusan dengan cara menempatkan diri sebagai mediator dari kedua pihak yang berbeda pandangan tersebut.  Bahkan hal yang paling ironis adalah manakala isu sara yang menyangkut kaum minoritas ini merambat ke ranah politik dimana ada oknum yang merasa bahwa kelompok minoritas tidak pantas untuk memimpin bangsa ini karena mereka hanya berjumlah segelintir. Sekali lagi ini menunjukan satu ketidakdewasaan berfikir bangsa kita yang masih belum bisa menerima kehidupan yang penuh dengan dinamika keberagaman baik itu suku, agama, maupun kepercayaan.

Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, niscaya persatuan dan kesatuan bangsa akan mengalami satu kemunduran karena sudah tidak adanya lagi sifat toleransi yang ditunjukan antar sesama umat beragama.

Pemerintah yang menjadi wadah dari sistem kenegaraan, seolah juga tidak mampu untuk melindungi hak-hak dasar setiap warga negaranya terutama kaum minoritas yang mendapat perlakuan kasar dari kelompok mayoritas. Sikap diam pemerintah inilah yang semakin lama semakin membuat kelompok minoritas seolah kehilangan haknya dalam menjalankan kepercayaannya yang meskipun telah dilindungi oleh dasar konstitusi negara.

Padahal selain telah membuat banyak aturan tentang penegakan HAM, Indonesia juga merupakan negara yang kembali terpilih sebagai salah satu anggota dewan HAM PBB. Namun tetap saja negara yang telah menjadikan HAM sebagai salah satu orientasi mutlak dalam menjalankan kehidupan bernegaranya ini ternyata belum mampu untuk mengaplikasikan segala bentuk jaminan akan kebebasan warga negaranya untuk mendapatkan hak asasinya.

Banyak peraturan yang membahas tentang penegakan HAM telah dibuat oleh Indonesia sebagai instrumen baku untuk menjamin tegaknya hak-hak dasar setiap warga negara Indonesia. Mulai dari Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2005 tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang diratifikasi dari International Covenant On Economic, Social And Cultural Rights atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya, dan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2005 tentang Hak Sipil dan Politik yang juga merupakan hasil ratifikasi dari International Covenant On Civil And Political Rights atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik.

Namun semua itu seolah hampa karena hingga kini hak-hak warga negara terutama kaum minoritas masih saja kerap diabaikan oleh negara sehingga berbagai konflik yang mengakibatkan kaum minoritas semakin terpinggirkan dan hampir tidak mendapat perlindungan hukum kembali marak terjadi.***

Mayoritas dalam minoritas

maksud pernyataan tadi adalah dimana kaum minoritas mempunyai kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan kaum mayoritas.Digambarkan dalam tindakan penjajahan (expansion).Dimana kaum minoritas yang lebih tangguh , lebih depresif , lebih expansif bisa untuk menundukan kaum mayoritas yang masih terbelakang dalam hal ilmu , pemikiran , dan tindakan,

Mayoritas dalam mayoritas

maksud pernyataan tadi adalah dimana kaum mayoritas mempunyai kekuasaan absolut dimana kaum minoritas tidak diperbolehkan untuk memprotes,menjatuhkan,menduduki jabatan dalam pemerintahan ataupun strata sosial.Kaum mayoritas menjadi lebih depresif dan agresif dimana ada sedikit saja kaum minoritas yang melakukan protes maka akan ditindak dengan hukum maksimum.

Kelompok-kelompok minoritas yang ada di Indonesia, baik minoritas dari segi etnis bangsanya secara pisik maupun minoritas secara pycologis perlu direkonsiliasi bukan justeru direlokasi disuatu tempat yang bisa  menjadikannya kedepan minoritas sepanjang masa.Bagi mereka kelompok minoritas yang akan menempati sesuatu wilayah karena direlokasi,akan merasa dipinggirkan oleh mayoritas yang pada ujung-ujungnya akan bisa mengancam keutuhan sesuatu bangsa dan negara Indoesia.

Kecuali jika mereka direlokasikan kesuatu tempat karena bencana alam ,yang sangat berbeda dampaknya  dengan direlokasi karena disebabkan  konflik sosial dengan mayoritas.Jika mereka di tempatkan disuatu wilayah karena bencana alam mereka tidak merasa terusir,akan tetapi jika mereka di relokasi karena konflik sosial

Akan tetapi lebih baik bagi kelompok-kelompok minoritas tersebut di rekonsiliasikan yang kemungkinan besar akan terjadi suatu”pembauran”dengan kelompok mayoritas secara perlahan-lahan akan makin padu dan utuh.Memang hal ini membutuhkan waktu yang relatif lama prosesinya ,namun hasilnya justru sangat indah  yang harmoni.                                                                                                                                                                                                                             Dampaknya sangat berbeda jika mereka yang minoritas direlokasikan kesuatu tempat ,  yang kelihatannya memang harmoni dipermukaannya saja yang sebaliknya teerjadi dalam jiwa mereka. Mereka merasa diusir oleh mayoritas karena perebedaannya,yang bisa saja menganggap sebagai tirani dari mayoritas terhadap kelompok minoritas.

Dalam konteks ini pemerintah perlu sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang tepat guna,  untuk menata bangsa Indonesia yang memang  majemuk  dalam berbagai aspek kehidupannya,dan akan  menyusun kembali struktur manajemen sebuah  bangsa dan negara Indonesia secara utuh.

Hubungan suatu kelompok dengan kelompok lain, terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hubungan antarkelompok terwujud karena adanya interaksi suatu kelompok dengan kelompok lain.
  2. Adanya kriteria persamaan jenis, ciri fisik, budaya, dan kepentingan menjadikan suatu kelompok lebih solid dan terikat
  3. Keterikatan seseorang terhadap aturan-aturan kelompok yang mereka ikuti menimbulkan suatu pandangan dan sikap terhadap kelompok lain, yang mana aturan itu sendiri ada disebabkan oleh konsep prasangka dan konsep stereotip
  4. Adanya kelompok-kelompok yang memiliki aturan tertentu mengenai hubungan anggota sesama kelompok maupun dengan luar kelompok membuat pola hubungan antarkelompok mengarah kepada pola pluralisme dan melenceng dari arah pola integrasi
  5. Stereotip suatu kelompok terhadap kelompok lain cenderung bersifat negatif.

2. ANALISIS KASUS

Generasi  tua yang  mempunyai cara pandang luas dan memperkuat tradisi  yang menjauhi hal hal yang menurutnya dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang negatif. Sedangkan  generasi muda dalam menentukan pilihannya lebih cenderung mengikuti semangatnya, dan lebih cenderung progressif bahkan agresif. Karena semangat mereka merupakan sebagai modal motor penggerak perubahan untuk generasi yang lebih maju. Akan tetapi generasi muda mempunyai pemikiran yang sempit dan cenderung mengikuti zaman yang semakin maju tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungannya.

Pola hubungan  tersebut merupakan pola hubungan pluralisme yang salah di dalam suatu kelompok masyarakat terdapat berbagai kelompok yang berbeda.

Generasi tua sebaiknya memberi sedikit toleransi terhadap generasi muda, harus mempertahankan budayannya tapi juga harus mau juga untuk menerima pengaruh dari budaya luar agar sedikit mengtahui tentang perkembangan zaman. generasi muda juga jangan terlalu berpandangan secara bebas terhadap segala sesuatu yang diinginkan dan mengikuti norma yang ada, sebab kalau terlalu mengikuti perkembangan yang bebas bisa menyebabkan sesuatu yang negatif.Perubahan social dan budaya membawa dampak positif dan negative terhadap kehidupan kita.sebagai generasi muda kita jangan terlalu berpandangan secara bebas terhadap segala sesuatu yang diinginkan Kita harus waspada terhadap hal-hal yang menimbulkan perubahan yang mengarah ke hal negative. Kita harus mempunyai sikap tegas menolak terhadap perubahan yang membawa ke arah negative. Kita dapat mengambil pengaruh positifnya yaitu dengan tetap berpedoman pada nilai dan norma masyarakat , mengambil pengaruh positif dari budaya Barat, seperti tepat waktu , belajar keras , dan rajin belajar ilmu pengetahuan serta mengenal dan mencintai kebudayaan sendiri dengan berusaha melestarikannya dan yang terpenting adalah dengan membentengi diri dengan ilmu agama. Intinya adalah kedua generasi tersebut harus saling bertoleransi.

4. KOMENTAR GAMBAR

 

 

 

 

 

 

Potret realita sosial di Indonesia. faktor ekonomi yang menuntun mereka terjebak dalam hal ini, masihkan Indonesia dibilang Negara merdeka, padahal perekonomian Indonesia masih rendah, bahaya laten korupsi sudah menjadi budaya dalam sebuah birokrasi politik untuk mengenyangkan perut sendiri.

Contohnya tentang mobil dinas para menteri yang harga 1 unit mobil mencapai 1,3 M. Ada yang beranggapan dengan diberikannya mobil seharga Milyaran itu untuk menggurangi tindakan korupsi para pejabat itu sendiri.
jika dilihat dari segi perawatan per unit mobil mewah itu, semakin mahal mobil yang dibeli otomatis perawatan semakin mahal pula….disatu sisi inilah potret seorang bapak yang terpaksa menjadi pemulung untuk melanjutkan hidupnya..dimana kebijakan yang sebenarnya dicita-citakan rakyat Indonesia?. inilah tugas bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk membawa Indonesia menuju lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s